GOOGLE MAP

Sabtu, September 10, 2011

Menegur Batita Tanpa Berteriak

ADUH, kamu bandel banget sih, dibilangin jangan diberantakin, masihhh aja dilakuin... Udah berapakali Mama bilang, habis main beresin mainannya!!!” teriak Laura (32) keras kepada putrinya, Cyntia, yang berusia 3 tahun.

Gadis kecil itu spontan terdiam melihat ekspresi muka marah sang Mama, sedetik kemudian dia mulai menangis. “Sudah, jangan nangis! Mama pusing dengarnya...” jawab Cyntia kehabisan kesabaran.

Apakah 
Moms sering kesal dengan ulah si kecil? Alih-alih menegurnya baik-baik, tanda sadar orangtua yang sudah telanjur kesal malah membentaknya. Bukannya sadar bahwa perbuatannya keliru, batita malah bisa jadi trauma, terluka perasaannya, atau ketakutan karena kaget mendengar hardikan Moms. Hmm, bagaimana ya cara aman menegur si 3 tahun?

Mendisiplinkan Anak

Teguran adalah upaya memaksa orang yang ditegur untuk melakukan apa yang diharapkan oleh si penegur, tanpa peduli apa kepentingan orang yang ditegur. Dan ada kalanya teguran diperlukan dalam konsep asuh-didik yang bertujuan membentuk kepatuhan. Ya, untuk mendisiplinkan anak, orangtua biasanya membuat aturan untuk dipatuhi.

Sayangnya, orangtua sering lupa, batita kadang-kadang bukan dengan sengaja melanggar aturan yang telah 
Moms terapkan. Pada usia ini, mereka memiliki memori atau ingatan yang sangat singkat, sangat impulsif dan penuh rasa ingin tahu. 

Itulah sebabnya orangtua akan menemukan bahwa mereka perlu untuk memberitahu hal yang sama, lagi, lagi dan lagi kepada si batita. Ya, batita memerlukan pendampingan berupa pengulangan-pengulangan. Akhirnya, mereka akan belajar dan nantinya hal-hal tersebut akan melekat menjadi suatu kebiasaan. Dan segala teriakan, cubitan, atau pukulan tidak diperlukan.

Trauma dengan Situasi Serupa

Memang, teguran itu sendiri tidak akan menyebabkan traumatis pada balita kelak. Tapi, pemaknaan terhadap teguran itu yang membuat si kecil menjadi trauma dengan situasi serupa.

Misalnya saja, ia trauma terhadap suara bicara yang keras seperti hardikan atau makian, bisa juga ekspresi wajah seperti ekspresi wajah marah saat menegur. Atau, bisa jadi ia trauma terhadap panggilan atau ajakan bicara empat mata.

Sebagai orangtua Anda tak ingin ia mengalami rasa trauma, bukan?

Tip Menegur Anak

Berikut beberapa tip untuk membantu orangtua menegur anak dengan cara yang tepat:

1. Hindari menggunakan kata-kata kasar dengan intonasi suara yang meninggi. Sebaiknya gunakan kalimat yang singkat, tegas dengan intonasi suara yang menurun. Misalnya, “Kamu perlu duduk sebentar.”

2. Sulit bagi seorang anak untuk menaati perintah yang diawali dengan kata negatif seperti “jangan”. Sebaiknya ganti kata “jangan” dengan kata awal yang positif. Contoh: Anda tak ingin keramik yang terpajang di mal dipegang-pegang si kecil. Daripada menggunakan kalimat “Jangan sentuh itu!” tawarkan alternatif padanya, “Taruh tangan kamu di belakang ya, kamu hanya boleh melihatnya.”

3. Biarkan anak membuat pilihan. Misalnya, bila si kecil menolak berpakaian, cobalah memungkinkan dia untuk memilih dari antara dua pakaian. Hal ini mengalihkannya dari sikap bersikeras (menolak berpakaian) sementara juga memungkinkan ia merasa memegang kendali.

4. Mintalah kerjasama, bukan menuntut. Sebaiknya ganti kata “Kamu harus...” menjadi “Tolong bereskan mainanmu. Letakkan ke tempat semula.”

5. Jelaskan alasan di balik permintaan Anda jika diperlukan. Misalnya, si kecil memukul-mukul air di kolam ikan dengan kayu. Daripada memarahinya dengan kalimat “Jangan dipukul, bandel banget sih...” Katakan, “Dek, berhenti memukul airnya. Lihat, ikan-ikan itu jadi ketakutan. Kasihan ikannya...”

6. Gunakan kata “kita” saat menegur anak yang melanggar kebiasaan rutin dalam keluarga. Misalnya, ia selalu berlari dari kursi makannya saat jam makan. Katakan, “Kita selalu duduk di meja makan kalau makan” sehingga anak juga belajar bahwa aturan itu juga dijalankan oleh anggota keluarga yang lain.

7. Tegur perbuatannya, bukan anaknya. Misalnya, jika anak lupa membereskan mainannya setelah bermain, maka yang ditegur adalah kealpaan atau kelalaiannya. Misalnya, “Hayoo... lupa lagi kan membereskan mainannya?” Menegur perbuatan anak secara khusus akan membuat anak mengerti dengan jelas dimana letak kesalahannya, sehingga diharapkan ia dapat belajar dari itu. Bukan menegurnya dengan cara “Kamu itu bandel, bodoh, nggak pernah ingat beresin mainan!” Hal ini hanya akan melukai perasaan anak.

8. Bila si kecil mengalami kesulitan untuk beralih dari apa yang dia kerjakan, misalnya sangat sulit diajak untuk berhenti bermain. Berikanlah peringatan terlebih dulu, misalnya, “Kita akan berangkat 1 menit lagi, jadi bilang “dadah” dulu sama mainanmu...” Atau, “Waktu Adek bermain tinggal 5 menit lagi ya, setelah itu Adek mau bobok siang.”

9. Saat ingin menegur si kecil, usahakan hanya ada Anda dan dia. Teguran sebaiknya bersifat pribadi. Jika ada orang lain, misalnya tamu yang sedang berkunjung ke rumah, ajak anak ke kamar atau ruangan lain. Jika Moms menegurnya di depan umum atau di hadapan orang lain, anak akan merasa tidak dihargai.

Sekali lagi, perlakukanlah anak bagaimana Anda ingin dia memperlakukan orang lain. Orangtua adalah role model utama bagi anak-anak. Jika mereka melihat Moms berteriak atau marah-marah, anak akan belajar bahwa teriakan atau marah adalah cara dalam mengatasi situasi yang sulit.

Sebaliknya, bila 
Moms or Dads tetap tenang dan memberi contoh perilaku yang baik, si kecil jauh lebih mungkin untuk berperilaku demikian kelak. Memang, punya anak batita kadang-kadang membuat Anda berada dalam situasi yang membuat frustrasi. Tapi, usaha mendisiplinkan anak dengan cara yang lembut akan terbayarkan seiring ia tumbuh besar. Percayalah!

Bila si Kecil Melakukan Kesalahan

- Perlu dipahami, manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Jadi, semua manusia, termasuk anak balita, boleh melakukan kesalahan. Hal yang perlu diperhatikan bukan soal melakukan kesalahan atau tidak, melainkan sikapnya ketika kesalahan itu terjadi.

- Masa balita adalah masa pemaparan nilai etika sebagai bibit pembentukan nilai moral. Jadi, pada masa ini, anak belajar soal benar-salah dan baik-buruk menurut versi masyarakat dimana ia berada. Bila balita melakukan kesalahan, jelaskan bahwa itu salah dan sebaiknya dihindari.

- Masa balita adalah masa belajar membangun kebiasaan. Jadi tuntutan belajar anak balita adalah menjadi terbiasa, bukan menjadi bisa. Oleh karena itu, “pantang” menuntut balita menjadi bisa. Termasuk juga, “pantang” menguji kebisaan si balita.

Orangtua, guru, pengasuh dan orang-orang di sekitarnya cuma perlu memberi kesempatan pada mereka untuk mengulang-ulang hal itu. Kalau pengulangannya memadai, pada saatnya si balita akan terbiasa sehingga akan terlihat “sudah bisa”.

Sumber  > /lifestyle.okezone.com/

( Renungan ) Buat Kita Yang Suka Mengeluh


Coba renungkan penyampaian ini sebelum Anda mulai mengeluhkan berbagai hal yang terjadi dalam hidup Anda…

01]. Hari ini sebelum Anda mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali

02]. Sebelum Anda mengeluh tentang rasa dari makanan yang Anda santap,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

03]. Sebelum Anda mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan.

04]. Sebelum Anda mengeluh bahwa Anda buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.

05]. Sebelum Anda mengeluh tentang suami atau istri Anda,
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.

06]. Hari ini sebelum Anda mengeluh tentang hidup Anda,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.

07]. Sebelum Anda mengeluh tentang anak-anak Anda
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.

08]. Sebelum Anda mengeluh tentang rumah Anda yang kotor karena pembantu tidak mengerjakan tugasnya, Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.

09]. Sebelum Anda mengeluh tentang jauhnya Anda telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.

10]. Dan di saat Anda lelah dan mengeluh tentang pekerjaan Anda,
Pikirkan tentang pengangguran,orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.

11]. Sebelum Anda menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa,,,

12]. Kita semua menjawab kepada Sang Pencipta
Dan ketika Anda sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan, tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa Anda masih hidup !

a. Life is a gift

b. Live it…

c. Enjoy it…

d. Celebrate it…

e. And fulfill it.

13]. Cintai orang lain dengan perkataan dan perbuatanmu

14]. Cinta diciptakan tidak untuk disimpan atau disembunyikan

15]. Anda tidak mencintai seseorang karena dia cantik atau tampan,
Mereka cantik/tampan karena Anda mencintainya,,,

16]. It’s true you don’t know what you’ve got until it’s gone,
but it’s also true You don’t know what you’ve been missing until it arrives!!!

Jadi……..berhentilah mengeluh, hadapilah manis pahitnya hidup dengan bersyukur terhadap semua yang telah Tuhan berikan….


Sumber  > /krenungan.org/wordpress

Senin, Agustus 08, 2011

Daun Sirsak, Sang Pembunuh Sel Kanker


(Foto: gettyimages)
(Foto: gettyimages)

KANKER menjadi momok banyak orang di seluruh dunia hingga kini. Saat banyak penelitian dilakukan untuk menemukan obat kanker terbaik, buah sirsak ternyata menyimpan keunggulan ini.

Beberapa waktu lalu, Taman Wisata Mekarsari mengadakan demo pengolahan daun sirsak yang diberikan secara gratis kepada pengunjung untuk ke-12 kalinya. Kegiatan bertujuan memberikan informasi bagaimana mengolah sirsak dengan baik untuk dijadikan obat alternatif membunuh sel kanker.

Selain melihat langsung demo pengolahan daun sirsak, pengunjung juga bisa melakukan tanya jawab seputar pengobatan kanker secara herbal dan disuguhkan pengetahuan menarik mengenai seluk beluk budidaya tanaman sirsak dan pengolahan daun untuk obat herbal penyakit kanker. Penasaran bagaimana sirsak mampu menjadi pembunuh sel kanker?

Setiap bagian sirsak bermanfaat

Nama sirsak berasal dari bahasa Belanda “zuur zak”, artinya buah yang asam. Bagian tanaman mulai bunga, daun, buah, biji, kulit, dan akar dapat dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional.

Pada awal 1990-an, ditemukan 34 senyawa Cytotoxic, pada daun sirsak yang mampu menghambat hingga membunuh sel-sel tubuh yang mengalami pertumbuhan tidak normal (sel kanker). Senyawa ini memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan dengan pengobatan kanker saat ini, antara lain membunuh kanker secara efektif dan aman, tanpa menyebabkan rasa mual dan muntah serta tanpa kehilangan berat badan maupun kerontokan rambut dalam jumlah besar.

Daun sirsak diketahui mengandung zat annonaceous acetogenins yang mampu 10.000 kali lebih kuat membunuh sel-sel kanker daripada zat adriamycin, yang biasa dipakai dalam pengobatan kemoterapi. Zat acetogenins dapat membunuh aneka jenis kanker, seperti kanker usus, tiroid, prostat, paru-paru, payudara, dan pankreas bahkan penyakit ambeien tanpa merusak atau mengganggu sel-sel tubuh yang sehat. Hal ini telah diteliti di Laboratorium Health Sciences Institute, Amerika Serikat di bawah pengawasan the National Cancer Institute, Amerika Serikat.

”Sebelum memutuskan untuk mengonsumsi olahan daun sirsak sebagai pengobatan terhadap kanker atau tumor, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau herbalis tempat Anda selama ini melakukan pengobatan. Sebab, dikhawatirkan Anda mempunyai alergi terhadap sirsak atau obat yang selama ini Anda konsumsi berefek terbalik dengan senyawa dalam daun sirsak,” jelas Stefanus, herbalis dari Herbacure, dalam pemaparannya.

Cara pengolahan

Lebih lanjut, Stefanus dan Darmawan Tri Wibowo, ahli budidaya tanaman sirsak dari Taman Wisata Mekarsari memaparkan cara pengolahan daun sirsak untuk herbal pencegah kanker, berikut ini:

1. Pada pengobatan kanker, daun sirsak (10-15 lembar) direbus dengan 3 gelas air (600 cc) hingga tersisa 1 gelas air rebusan. Pada saat merebus sebaiknya menggunakan kendi atau panci yang terbuat dari tanah liat agar kemurnian zat yang ada pada daun sirsak tetap terjaga. Air rebusan diminum selagi hangat setiap hari,  pagi atau sore hari selama 3-4 pekan.

”Perlu diperhatikan, pengambilan daun sirsak sebaiknya dimulai dari daun ke-4 atau ke-5 dari ujung pucuk. Hal ini dikarenakan pada daun yang terlalu muda, senyawa belum banyak terbentuk. Sementara pada daun yang tua sudah mulai rusak sehingga kadarnya berkurang,” terang Darmawan.

2. Selain teknik pengolahan di atas, secara umum terdapat pengolahan lain daun sirsak, yaitu dengan memanfaatkan daun sirsak kering 10-15 lembar direbus dengan 2 gelas air (400 cc) sehingga tersisa 1 gelas air rebusan. Proses perebusan membutuhkan waktu 1-1,5 jam saja, jadi lebih cepat prosesnya dibanding cara di atas. Proses pengeringan sebaiknya tidak dilakukan di bawah sinar matahari terik karena dikhawatirkan akan merusak  senyawa  dalam daun sirsak.

”Daun sirsak kering memiliki senyawa yang tetap sama dengan daun sirsak basah karena yang berkurang dalam proses pengeringan hanya kadar airnya. Sementara, senyawa dalam daun tetap terjaga. Penyimpanan daun sirsak dalam lemari pendingin maksimal sepekan sejak pemetikan karena proses pendinginan yang lama dikhawatirkan akan merusak senyawa dalam daun selain aroma daun yang tidak enak karena proses fermentasi,” papar Darmawan.

3. Konsumsi daging buah sirsak segar (150-250 gr/hari) dengan mengolahnya menjadi jus atau dimakan langsung sangat disarankan. Daging buah sirsak selain sebagai penambah energi (pada umumnya penderita kanker/tumor kondisi badanya lemas /lesu) juga kaya serat yang sangat membantu proses pengeluaran sel-sel kanker yang telah mati akibat penyembuhan oleh senyawa acetogenins.

Ekskresi sel kanker yang mati  bisa melalui keringat, urine, dan feses sehingga umumnya terapi menggunakan herbal daun sirsak sebagai pengobatan akan berefek hangat/panas pada bagian tubuh yang sakit, sering kencing, dan berkeringat deras. Cepat lambatnya reaksi tubuh terhadap penggobatan atau efek samping pengobatan berbeda pada setiap orang dipengaruhi oleh faktor, seperti usia, ketahanan tubuh penderita, tingkat stadium kanker/tumor, dan jenis kanker atau tumornya.

4. Pengolahan daun sirsak lainnya yaitu dengan cara memblender 3-5 lembar daun sirsak basah dengan menambahkan ¼ gelas air (50 cc) air hangat untuk membantu proses penghancuran. Sebelum diblender, daun sebaiknya dipotong menjadi 3-4 bagian agar lebih cepat hancur. Setelah hancur, masukkan daun ke wadah dengan penutup rapat, lalu tambahkan 1 gelas air panas ke dalamnya dan aduk sampai rata.

Tutup wadah dengan rapat agar panas tetap terjaga dan proses ekstraksi senyawa dapat maksimal. Biarkan selama 15-20 menit, setelah itu saring olahan untuk diambil airnya dan minum selagi hangat.

Bila tidak ada blender, pengolahan daun sirsak bisa juga dengan cara digerus menggunakan cobek dengan teknik pengolahan yang sama dengan cara diblender.

”Pengolahan dengan cara diblender atau digerus tidaklah semaksimal ekstraksi senyawa daun sirsak dibandingkan dengan teknik pertama (perebusan daun basah) dan teknik kedua (perebusan daun kering), tetapi lebih efisien. Hasil olahan pada kedua teknik umumnya beraroma langu yang cukup menyengat. Untuk menekan aromanya bisa ditambahkan sedikit perasan buah nanas atau buah lain yang lebih disukai. Dan jangan menambahkan gula aren murni, madu, atau gula pasir bila rasanya tidak Anda sukai, karena sudah melalui proses kimiawi,” terang Stefanus.

Reaksi pengobatan

Reaksi pengobatan menggunakan olahan daun sirsak umumnya bereaksi setelah 3-7 hari setelah pengobatan secara rutin 3 kali sehari meskipun ada juga yang baru bereaksi setelah 1 bulan konsumsi rutin.

”Bila reaksi tidak ada, cek kembali secara detail, mulai dari pemilihan alat dan bahan, teknik pengambilan daun, cara pengolahan, bahkan teknik konsumsinya apakah rutin atau tidak, karena semua merupakan satu kesatuan yang wajib dipenuhi agar hasilnya maksimal,” saran Stefanus.

Ia menambahkan, cek kondisi penyakit Anda sebelum pengobatan dan periksa kembali dua pekan setelah pengobatan untuk melihat sejauh mana reaksi pengobatan dengan metode ini. Bila tidak ada pengaruh selama dua bulan konsumsi, padahal sudah menjalankan pengolahan dengan benar, maka pengobatan dengan olahan daun sirsak ini bisa ditingggalkan.

”Untuk penderita maag yang khawatir asam lambungnya naik karena konsumsi  buah sirsak yang agak asam, sebaiknya mengonsumsi buah 1 jam setelah makan. Bila menderita sakit maag yang cukup akut, konsumsi buahnya bisa dilakukan dengan cara mengukus daging sirsak terlebih dahulu agar rasa asam berkurang,” tutup Stefanus.


Sumber >  lifestyle.okezone.com